Rabu, 18 April 2012

Cara Mengatasi Mesin Pincang Akibat Busi Sudah Usang

send email
print this page



Buka cover penutup koil setelah melepas belalai take, busi kotor atau mati penyebab utama stasioner pincang

Siapa bilang pembesut Mercedes-Benz W210 alias ‘New Eyes’ haram melakukan oprekan mesin sendiri saat senggang, semisal di akhir pekan.

“Meski perawatan sebaiknya ke bengkel resmi namun tak ada salahnya tahu seluk beluk mesin atau setidaknya bisa mengganti busi sendiri,” papar Deni dari New Eyes Club of Indonesia (NECI) Jakarta.

Siapa yang bakal tahu bila mobil tiba-tiba brebet atau pincang. Namanya juga mobil sudah berumur. Untuk tipe E320 bermesin 6 silinder segaris, lazim terjadi akibat busi yang sudah usang.

Jangan lekas menyalahkan ECU, fuel supply atau sistem pengapian. Mulai lakukan pengecekan dari yang paling basic yaitu cek busi. “Sangat mungkin busi seharga Rp 30 ribu menjadi biang keladi,” ujar Deni lagi.

Buka tutup koil yang berada di tengah-tengah valve cover menggunakan kunci ‘L’. Sebelumnya, belalai air intake dan tutup air filter dilepas terlebih dulu.

Setelah cover plastik hitam terbuka, mulailah mencabut kabel busi satu persatu. Harap diingat urutannya karena bisa berabe kalau salah pasang sekelar mengganti busi.

Bila perlu semprot throttle body dengan spray cleaner, idle saat stasioner tak lebih dari 1.000 rpm dan jarum RPM stabil (tidak naik-turun)
Buka busi satu persatu dengan kunci busi untuk memeriksa kondisi busi yang sebenarnya. Gejala pincang biasa terjadi bila busi sudah kotor, basah karena bensin atau sama sekali mati.

Bersihkan busi dengan sikat kawat atau amplas agar permukaan anoda dan katoda dalam kondisi normal. Bila tak tertolong, mau tak mau harus ganti keenam busi dengan yang baru.

Sesuaikan spesifikasi busi seperti yang tertera di decal (stiker) bawaan pabrik. “Bisa gunakan tipe standar (1 katoda) atau yang memiliki 4 katoda sebagai alternatif,” jelas Otte dari Otte Auto Repair di bilangan Kebon Jeruk, Jakbar.

Pasang keenam busi dengan hati-hati untuk mengeliminir kemungkinan katoda kepentok permukaan kepala silinder sehingga mengubah gap atau celah bawaan pabrik. Putar busi dengan tangan melalui media kunci busi.

Setelah busi berhenti berputar barulah gunakan gagang kunci busi untuk mengencangkan sesuai momen yang dianjurkan. “Bila tak ada kunci momen, gunakan feeling saja asalkan jangan berlebihan karena bisa membuat ulir di kepala silinder rusak,” wanti Deni.

Pasang kembali kabel busi dan koil ke tempatnya semula. Pastikan kepala kabel busi terpasang dengan baik ke busi untuk menghindari terjadinya loncatan api.


Pasang kembali kabel busi dan koil sesuai urutan setelah busi terpasang

Karena belalai intake dalam kondisi terlepas, sebelum dipasang kembali tak ada salahnya melakukan pembersihan filter udara dan throttle body.

“Kalau tak ada kompresor, filter udara bisa diketuk-ketuk ke lantai agar debu dan kotoran jatuh ke lantai,” terangnya. Sementara throttle body lazimnya dibersihkan dengan injector cleaner jenis spray.

Pasang kembali belalai dan baut-baut pengikat seperti sediakala. Jangan lupa untuk memasang kembali kabel (soket) air flow meter.

Nyalakan mesin dan dengarkan suara saat stasioner. Dengan idle pada kisaran 750-800 rpm, mesin kudu anteng tanpa ada gejala pincang. Begitu pula saat digas, putaran mesin harus bersih tanpa ada kendala brebet.
 

0 comments:

Poskan Komentar

Jika Admin tidak menjawab di halaman ini, mungkin Admin telah mengirimkan jawabannya melalui e-mail Anda. Jadi harap lihat e-mail Anda.

 

Exchange Link

Membuka Website yang Terblokir dengan Mudah
Copy-paste in your website/blog

Widget

DMCA.com
Ping your blog, website, or RSS feed for Free W3 Directory - the World Wide Web Directory Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Directory submission